He winces at the memory of that experience.
Dia meringis saat mengingat pengalaman itu.
He winced at the insult.
Dia meringis mendengar hinaan itu.
he winced at the disgust in her voice.
dia meringis mendengar jijik dalam suaranya.
He winced inwardly at her harsh tone.
Dia meringis di dalam hatinya mendengar nada bicaranya yang kasar.
she winced at their infelicities and at the clumsy way they talked.
dia meringis pada ketidakbahagiaan mereka dan cara mereka berbicara yang ceroboh.
I winced as my blister contacted the floor.
Saya meringis ketika lecet saya bersentuhan dengan lantai.
she winced as her knees cracked against metal.
Dia meringis ketika lututnya membentur logam.
6.I winced, but went bravely on. "First let us examine the fallacy called Dicto Simpliciter."
6.Saya meringis, tetapi melanjutkan dengan berani. "Pertama-tama, mari kita periksa kesesatan yang disebut Dicto Simpliciter."
Hilario shrugged off the rank implausibility of his situation, ignored the wince-inducing pressure and waded straight into the deep end, which has got to take some guts.
Hilario menepis ketidakmasukakalan yang parah dari keadaannya, mengabaikan tekanan yang membuat sakit, dan langsung masuk ke bagian terdalam, yang membutuhkan keberanian.
Jelajahi kosakata yang sering dicari
Ingin belajar kosakata dengan lebih efisien? Unduh aplikasi DictoGo dan nikmati fitur penghafalan dan peninjauan kosakata yang lebih banyak!
Unduh DictoGo Sekarang